Senin, 13 April 2015

Part 1 Nurinnn

Ch 1

Hal apa yang dapat kita ingat saat kita merasakan gelapnya malam? Banyak hal yang bisa aku ingat. Sepi, sendiri, sunyi, meratap, sedih, pedih, perih dan beberapa hal lain. Sepi karena aku tidak memiliki seorang pun yang dapat aku ajak bercerita. Sendiri karena tidak ada orang lain yang ada bersamaku. Sunyi karena hanya ada gelap dan tak ada suara lain yang dapat aku dengar. Meratap karena bagiku seolah tidak ada lagi harapan akan datangnya esok. Sedih karena tak ada satu hal pun yang dapat aku lakukan, bahkan aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan. Perih karena luka yang aku rasakan tidak kunjung sembuh. Kecewa karena “ Why should be me?”
It’s just an ordinary words we rarely say. Apa yang bisa kita ungkapkan saat semua yang kita rasakan jauh dari apa yang kita bayangkan atau apa yang kita duga.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
“Rindaaaaaa”, terdengar suara yang sudah tidak asing lagi untuk indra pendengaranku.
“Heiiiiiii...”, sapaku saat mendapati Anda berteriak memanggil ku sambil tergopoh-gooh menuju kearahku.
“Rin, udah ngerjain tugas matematika belom? Kalo udah, nyontek naaah. Hehe.. Rinda cantik deh kalo ngasih contekan.”
“Iiiiiihhh kamu ni, Nda. Tugas aja yang yang ditanyain tiap pagi. Udah ngerjain dong, tapiiii.. ga mau nyontekin. Yeeeeeee...”, jawabku sambil berlari kearah kelas dan meninggalkan Anda.
“Iiiihhh, Rinda. Nyontekkkkkkk”, ucap Anda dan segera berlari mengejarku.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Ya begitulah kami. Aku Nurrindah dan Anda teman terdekat yang aku punya di sekolah yang katanya lumayan favorit di Kota asal Presiden ke delapan Republik Indonesia. Entah hal apa yang membuat orang tuaku memanggilku dengan sebutan Rinda, walaupun sebenarnya sebutan Indah lebih familiar untuk di dengar dan diucapkan. Salah satu alasan aku sangat menyayangi Anda adalah karena namanya yang unik. Randa Hapsari dan sering dipanggil Anda. Dalam bahasa Jawa, kata Randa berarti Janda, jadilah Randa teman terbaik yang aku miliki itu di panggil Anda sejak kecil. Pasti jadi timbul pertanyaan, kenapa gak dipanggil Sari yang lebih biasa gitu, atau Hapsa kan lumayan unik. Tapi kata orang tua Anda bilang, dengan nama itu diharapkan Anda jadi orang yang selalu disegani dan disebut Anda yang juga berarti orang yang dihormati. Amin.
Saat itu kami masih duduk di bangku kelas XI. Masa dimana banyak orang berpendapat bahwa kami sedang berada di usia labil, peralihan antara remaja dan dewasa. Menurutku, aku dan Anda adalah siswi yang biasa. Bukan termasuk 10 siswa unggulan parallel di sekolah, mengingat daya tampung sekolah di tahun angkatanku adalah sekitar 400 siswa. Bukan hal yang mudah untuk berjuang melawan 399 siswa lain yang ada di angkatanku. Aku dan Anda hanya bisa bersaing di tingkat 10besar kelas. Melawan 42 siswa lain termasuk Anda.
Disaat semua siswa dari semua angkatan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian tengah semester, sekolah kami diributkan dengan kasus bullying yang dilakukan oleh sekelompok siswa yang sering ngaku jadi trendsetter . Wow dalam sekejap sekolah kami jadi sorotan public berkat headline news salah satu stasiun TV lokal yang bertajuk “Geng Cantik Brutal di SMA Favorit”. Dalam kesibukan sekolah yang harus mempersiapkan segala macam persiapan untuk melaksanakan ujian tengah semester, disaat itu juga sekolah kami harus menuntaskan kasus bullying oleh salah satu geng di sekolah kami dan memulihkan kembali nama baik dan citra sekolah.
Seperti yang aku ketahui dan aku lihat, Astika bukanlah anak yang jahat, brutal atau seperti anak-anak pengikut geng yang tampilan dan mentalnya acak-acakan. Astika adalah slah satu siswi pintar yang dimiliki oleh kelas kami. Tapi siapa sangka Astika malah jadi pelopor Geng Cantik yang akhirnya menimbulkan kasus bagi sekolah kami. Alhasil demi memperbaiki nama sekolah, sesuai dengan keputusan yang dibuat oleh Dinas Pendidikan, Astika dan anggota geng nya harus di drop out dari sekolah. Setelah di drop out tak banyak hal yang kami dengar lagi tentang Astika, dan sekolah kami kembali tenang seperti biasa.
Hari-hari pun berlalu hingga akhirnya aku dan Anda duduk di bangku kelas XII. Banyak dari teman-teman yang satu angkatan denganku mulai mempersiapkan segala macam buku latihan untuk menghadapi ujian akhir nasional, aku malah harus berjuang untuk memperingkat waktu sakitku dan berharap segera meninggalkan ruangan serba putih dan biru yang identik dengan bau obat.

Mungkin terlalu lelah karena tidak sedikit les dan bimbel yang harus aku datangi stiap hari demi ilmu yang kata papa merupakan warisan yang tidak ternilai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar