Ch 1
Hal apa yang dapat kita ingat saat kita merasakan gelapnya malam?
Banyak hal yang bisa aku ingat. Sepi, sendiri, sunyi, meratap, sedih, pedih,
perih dan beberapa hal lain. Sepi karena aku tidak memiliki seorang pun yang
dapat aku ajak bercerita. Sendiri karena tidak ada orang lain yang ada
bersamaku. Sunyi karena hanya ada gelap dan tak ada suara lain yang dapat aku
dengar. Meratap karena bagiku seolah tidak ada lagi harapan akan datangnya
esok. Sedih karena tak ada satu hal pun yang dapat aku lakukan, bahkan aku tak
tahu apa yang bisa aku lakukan. Perih karena luka yang aku rasakan tidak
kunjung sembuh. Kecewa karena “ Why should be me?”
It’s just an ordinary words we rarely say. Apa yang bisa kita
ungkapkan saat semua yang kita rasakan jauh dari apa yang kita bayangkan atau
apa yang kita duga.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
“Rindaaaaaa”, terdengar suara yang sudah tidak asing lagi untuk indra
pendengaranku.
“Heiiiiiii...”, sapaku saat mendapati Anda berteriak memanggil ku
sambil tergopoh-gooh menuju kearahku.
“Rin, udah ngerjain tugas matematika belom? Kalo udah, nyontek naaah.
Hehe.. Rinda cantik deh kalo ngasih contekan.”
“Iiiiiihhh kamu ni, Nda. Tugas aja yang yang ditanyain tiap pagi. Udah
ngerjain dong, tapiiii.. ga mau nyontekin. Yeeeeeee...”, jawabku sambil berlari
kearah kelas dan meninggalkan Anda.
“Iiiihhh, Rinda. Nyontekkkkkkk”, ucap Anda dan segera berlari
mengejarku.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Ya begitulah kami. Aku Nurrindah dan Anda teman terdekat yang aku
punya di sekolah yang katanya lumayan favorit di Kota asal Presiden ke delapan
Republik Indonesia. Entah hal apa yang membuat orang tuaku memanggilku dengan
sebutan Rinda, walaupun sebenarnya sebutan Indah lebih familiar untuk di dengar
dan diucapkan. Salah satu alasan aku sangat menyayangi Anda adalah karena
namanya yang unik. Randa Hapsari dan sering dipanggil Anda. Dalam bahasa Jawa,
kata Randa berarti Janda, jadilah Randa teman terbaik yang aku miliki itu di
panggil Anda sejak kecil. Pasti jadi timbul pertanyaan, kenapa gak dipanggil
Sari yang lebih biasa gitu, atau Hapsa kan lumayan unik. Tapi kata orang tua
Anda bilang, dengan nama itu diharapkan Anda jadi orang yang selalu disegani
dan disebut Anda yang juga berarti orang yang dihormati. Amin.
Saat itu kami masih duduk di bangku kelas XI. Masa dimana banyak orang
berpendapat bahwa kami sedang berada di usia labil, peralihan antara remaja dan
dewasa. Menurutku, aku dan Anda adalah siswi yang biasa. Bukan termasuk 10
siswa unggulan parallel di sekolah, mengingat daya tampung sekolah di tahun
angkatanku adalah sekitar 400 siswa. Bukan hal yang mudah untuk berjuang
melawan 399 siswa lain yang ada di angkatanku. Aku dan Anda hanya bisa bersaing
di tingkat 10besar kelas. Melawan 42 siswa lain termasuk Anda.
Disaat semua siswa dari semua angkatan mempersiapkan diri untuk
menghadapi ujian tengah semester, sekolah kami diributkan dengan kasus bullying
yang dilakukan oleh sekelompok siswa yang sering ngaku jadi trendsetter . Wow dalam sekejap sekolah
kami jadi sorotan public berkat headline news salah satu stasiun TV lokal yang
bertajuk “Geng Cantik Brutal di SMA Favorit”. Dalam kesibukan sekolah yang
harus mempersiapkan segala macam persiapan untuk melaksanakan ujian tengah
semester, disaat itu juga sekolah kami harus menuntaskan kasus bullying oleh
salah satu geng di sekolah kami dan memulihkan kembali nama baik dan citra
sekolah.
Seperti yang aku ketahui dan aku lihat, Astika bukanlah anak yang
jahat, brutal atau seperti anak-anak pengikut geng yang tampilan dan mentalnya
acak-acakan. Astika adalah slah satu siswi pintar yang dimiliki oleh kelas
kami. Tapi siapa sangka Astika malah jadi pelopor Geng Cantik yang akhirnya
menimbulkan kasus bagi sekolah kami. Alhasil demi memperbaiki nama sekolah,
sesuai dengan keputusan yang dibuat oleh Dinas Pendidikan, Astika dan anggota
geng nya harus di drop out dari sekolah. Setelah di drop out tak banyak hal
yang kami dengar lagi tentang Astika, dan sekolah kami kembali tenang seperti
biasa.
Hari-hari pun berlalu hingga akhirnya aku dan Anda duduk di bangku
kelas XII. Banyak dari teman-teman yang satu angkatan denganku mulai
mempersiapkan segala macam buku latihan untuk menghadapi ujian akhir nasional,
aku malah harus berjuang untuk memperingkat waktu sakitku dan berharap segera
meninggalkan ruangan serba putih dan biru yang identik dengan bau obat.
Mungkin terlalu lelah karena tidak sedikit les dan bimbel yang harus
aku datangi stiap hari demi ilmu yang kata papa merupakan warisan yang tidak
ternilai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar